Medianusantara.site, SEMARANG — Shava Salvia Waranggani mengakhiri penantian selama empat tahun dengan meraih medali emas nomor lari 100 meter putri Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII/2026. Atlet Kota Solo itu finis pertama dengan catatan waktu 12,04 detik di Stadion Tri Lomba Juang, Semarang, Rabu (28/10/2026).
Medali emas tersebut menjadi pencapaian istimewa bagi Shava. Setelah menanti kesempatan tampil di Porprov, atlet muda itu langsung membuktikan kemampuannya dengan berdiri di podium tertinggi pada nomor 100 meter putri.
“Alhamdulillah, selama empat tahun nunggu Porprov dan perdana ikut 100 meter, hasilnya langsung emas,” ungkap Shava.
Keberhasilan tersebut tak lepas dari persiapan yang dilakukan sejak jauh-jauh hari. Dukungan orang tua, pelatih, rekan-rekan, dan suporter juga menjadi penyemangat bagi Shava selama menjalani pertandingan.
Ketua Atletik Kota Surakarta mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, medali emas Shava memang menjadi salah satu sasaran utama tim sejak awal persiapan. Emas itu sekaligus menjadi medali emas pertama bagi kontingen atletik Surakarta dalam ajang Porprov Jateng 2026.
“Memang mereka sudah mempersiapkan diri dari awal, sehingga ini benar-benar menjadi tujuan Shava untuk memperoleh emas,” jelasnya yang dikutip dari keterangan tertulis.
Prestasi Shava tak hanya menjadi kebanggaan Kota Bengawan. Deretan pencapaiannya di tingkat nasional membuatnya diproyeksikan untuk terus berkembang dan memperkuat atletik Indonesia.
Usai berlaga di Porprov, Shava masih akan mengikuti nomor estafet 4×100 meter dan 4×400 meter. Ia juga dijadwalkan berangkat ke Thailand pada 4 November 2026 untuk mengikuti kejuaraan SEA Youth Under-20. Sementara itu, program pembinaan jangka panjang telah disiapkan untuk mempersiapkannya menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.
Di balik keberhasilan tersebut, Shava juga menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda. Sejumlah penonton cilik tampak antusias menyaksikan pertandingan atletik di Stadion Tri Lomba Juang. Dua di antaranya, Natasya dan Sakila, siswi kelas VI berusia 12 tahun yang juga berlatih sebagai pelari.
Keduanya mengaku mengidolakan Shava dan menjadikan prestasinya sebagai motivasi untuk terus berlatih. Mereka berharap suatu saat dapat mengikuti jejak sang idola dengan menembus kompetisi atletik tingkat nasional.
“Kak Shava itu keren banget, apalagi waktu pecahkan rekor lawan China di estafet 100 meter,” ujar Natasya.
Bagi para penggemar muda itu, keberhasilan Shava bukan sekadar soal medali. Perjuangannya menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membuka jalan menuju prestasi sekaligus menginspirasi generasi penerus atletik Indonesia.

Leave a Reply