Medianusantara.site, SOLO – Pasar dan pusat perbelanjaan di Kota Solo biasanya ramai menjelang Lebaran, tak terkecuali pusat perbelanjaan pakaian seperti Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo (PGS). Namun demikian, pedagang di dua pusat perbelanjaan pakaian itu mengungkapkan kondisinya tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan Espos, menjelang Idulfitri atau Lebaran 2026, Rabu (11/3/2026) siang, aktivitas jual-beli di Pasar Klewer, Solo, terpantau masih landai dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Lorong-lorong pasar tak tampak dipadati pengunjung.
Hanya tampak beberapa pengunjung yang berkeliling melihat-lihat barang yang dijajakan di kios-kios pedagang di pasar yang berlokasi di Jl Radjiman, Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, itu. Sejumlah pedagang dan penjaga kios di lantai II maupun III terlihat lebih banyak merapikan dagangan daripada melayani pembeli.
Salah satu pengunjung, Ponijan, asal Temanggung, mengaku memilih Pasar Klewer sebagai tujuan belanja karena kualitas produk tekstilnya lebih baik dibanding daerah lainnya.
“Saya dan istri baru tahun ini berbelanja di Pasar Klewer, baru pertama. Ternyata koleksi baju dan batiknya di sini beragam serta harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan daerah lain,” jelasnya saat diwawancarai Espos di Pasar Klewer Solo, Rabu (11/3/2026).
Salah satu pedagang busana muslim di Pasar Klewer, Wahyu Nur Cahyanto, mengatakan kondisi tahun ini berbeda, meskipun pengunjung meningkat daripada hari biasa. Menurut dia, menjelang Idulfitri tahun ini tetap terasa berbeda baginya.
“Antusiasme pengunjung memang meningkat dibandingkan hari biasa, tetapi Lebaran tahun ini tidak seperti tahun lalu. Dagangan saya malah stagnan, cenderung menurun kalau dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.
Penurunan Daya Beli Masyarakat
Dia mengatakan penurunan jumlah pengunjung menjelang Lebaran ini dibanding tahun sebelumnya bukan karena pasar online lebih diminati pembeli. Menurut dia, penurunan terjadi karena daya beli konsumen di pasar tradisional menurun.
“Antara pasar online dan tradisional memiliki karakteristik konsumen yang berbeda, di sini harganya juga murah tetapi masih bisa ditawar. Jadi, sebetulnya pasar online tidak berpengaruh bagi penjualan saya,” papar Wahyu.
Wahyu mengaku menjelang Idulfitri tahun ini, ia tidak memiliki strategi pemasaran secara khusus. Ia menggunakan strategi pemasaran yang sehari-hari dipakai. “Kalau strategi pemasaran di pasar tradisional promosinya masih konvensional. Misalnya, pakaian seharga Rp100.000 dipotong Rp10.000 untuk menarik konsumen. Sebenarnya hanya strategi biasa,” jelasnya.
Menurut Wahyu, pendapatannya menjelang Idulfitri tahun ini sulit diprediksi. Hal tersebut dipicu kondisi daya beli konsumen di Pasar Klewer yang terus menurun.
“Daya beli masyarakat di Pasar Klewer cenderung menurun, jadi untuk keuntungan saya patok 20% dari harga jual atau modal. Itu sudah maksimal, karena kita juga kompetitif dengan pasar lain,” lanjut dia.
Sementara itu, penjual busana batik dan daster di Pasar Klewer, Siti Romlah, mengaku sengaja menambah koleksi dagangannya dengan pakaian muslim wanita seperti gamis. Langkah ini ia ambil dengan harapan momentum menjelang lebaran dapat mendongkak penjualnya.
“Saya tidak begitu tahu tren gamis bagaimana, ini saya jual hanya untuk selingan saja, untuk menjelang lebaran,” jelasnya saat ditemui Espos, Rabu (11/3/2026).
Kondisi yang hampir sama terjadi di Pusat Grosir Solo (PGS) yang berlokasi tak jauh dari Pasar Klewer, tepatnya di Jl Mayor Sunaryo, Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo. Para pedagang di pusat belanja pakaian itu juga merasakan jumlah pengunjung tak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Membatasi Stok
Salah satu penjual pakaian muslim di PGS, Fitri, menjelaskan persiapannya menjelang Lebaran 2026 ini sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya. Ia mengatakan selain jumlah pengunjung yang tak begitu ramai, jumlah penjual juga semakin berkurang.
“Desember tahun lalu [2025] di PGS masih ramai pembeli dan penjualnya, tetapi sejak Januari [2026], banyak penjual tidak melanjutkan kontrak di sini,” lanjut Fitri saat ditemui Espos, Rabu.
Menurut dia, PGS tidak seperti dulu. Fitri memutuskan membatasi stok barang dagangannya. Ia mengaku tidak melakukan pengadaan stok barang di kiosnya dalam jumlah besar pada Lebaran tahun ini. “Awalnya saya berani stok hingga ribuan, tetapi sekarang berbeda. Saya tidak berani stok terlalu banyak, apabila barang habis, baru stok barang baru,” jelasnya.
Ia juga mengatakan meskipun jumlah pesanan di offline store (PGS) tidak banyak, bisnisnya tetap bisa berjalan dengan baik karena media sosial. “Kalau pesanan sebetulnya masih banyak, karena kebetulan saya punya konfeksi yang bisa melayani pembuatan seragam pengajian dan keluarga. Selain itu, kios saya juga melayani di online store di media sosial yang cukup banyak pembelinya,” papar dia.
Penjual pakaian muslim wanita lainnya di PGS, Cahyo, mengatakan meskipun jumlah pengunjung menjelang Lebaran ini sepi, penjualannya justru meningkat karena strategi penjualannya.
“Kami tidak hanya memiliki kios di sini tetapi ada konfeksi. Nah, cara kami adalah memproduksi barang yang sedang tren, salah satunya jaguar. Kalau barang yang kami buat itu tidak diminati pembeli maka tidak ada yang beli, jadi kami memproduksi pakaian yang diminati pembeli menyesuaikan tren yang ada,” jelas dia.
Salah satu pengunjung PGS asal Solo, Laila, mengaku masih memilih berbelanja di PGS karena dikenal menawarkan koleksi busana yang lengkap bagi pembeli. Ia pun menyayangkan banyak kios yang tutup.

Leave a Reply