Medianusantara.site, KARANGANYAR — Keharmonisan antarumat beragama di Kampung Jlono, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar tetap terjaga, meskipun perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026 berlangsung berdekatan.
Di kampung tersebut terdapat sekitar 50 keluarga dengan komposisi setengahnya beragama Hindu, sementara sisanya beragama Islam dan Kristen.
Selama ini, tradisi toleransi telah mengakar kuat. Setiap perayaan Nyepi, warga Muslim dan Kristen secara sukarela membantu menjaga keamanan lingkungan.
Mereka berjaga di akses masuk kampung untuk mencegah kendaraan bermotor melintas serta melakukan patroli ke rumah warga Hindu yang ditinggal beribadah di pura.
Pemuka Pura Jonggol Shantika Loka, Gimanto, mengatakan masyarakat setempat sudah terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan.
“Kalau masyarakat di sini tidak ada masalah. Umat Hindu tetap melaksanakan Catur Brata Penyepian, sementara saudara Muslim juga menjalankan kewajibannya seperti takbiran,” ujarnya.

Tahun ini, Hari Raya Nyepi berlangsung pada 19–20 Maret 2026. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian, yang meliputi amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.
Setelah itu, mereka melaksanakan Ngembak Geni, yang menjadi momen untuk saling memaafkan. Namun, karena waktunya berdekatan dengan Idulfitri, beberapa tradisi saling membantu tidak dapat berjalan seperti biasanya.
“Kalau tahun sebelumnya ada jeda waktu, warga Muslim membantu menjaga rumah umat Hindu. Tahun ini waktunya hampir bersamaan, jadi masing-masing fokus ibadah,” jelas Gimanto.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi nilai toleransi. Justru masyarakat saling memahami kewajiban masing-masing.
Pada tahun-tahun sebelumnya, umat Hindu juga turut membantu pengamanan saat salat Idulfitri. Namun tahun ini hal itu kemungkinan tidak dilakukan karena berbarengan dengan rangkaian upacara Nyepi. “Toleransi di sini masih tinggi. Semua saling menghormati,” tegasnya.
Sebelum Nyepi, umat Hindu juga melaksanakan upacara Melasti sebagai bagian dari penyucian diri dan alam.
Tokoh masyarakat Jlono, Minto, memastikan suasana kampung tetap kondusif menjelang dua hari besar keagamaan tersebut. “Pada intinya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetap saling menjaga. Tidak ada yang berubah,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika malam takbiran bertepatan dengan Nyepi, warga akan tetap melaksanakan takbiran namun dengan penyesuaian. “Volume akan dikurangi agar tetap menghormati umat Hindu yang menjalankan Nyepi,” jelasnya.
Menurut Minto, masyarakat Jlono sudah terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman, sehingga setiap perayaan keagamaan dapat berjalan aman dan damai. “Kami sudah terbiasa menjaga kebersamaan di kampung ini,” pungkasnya.

Leave a Reply