Medianusantara.site, JAKARTA – Sejumlah kota di Israel dan beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah menjadi target serangan militer Iran.
“Gelombang ke-58 Operasi ‘True Promise 4’ dilakukan terhadap target di wilayah utara dan tengah wilayah pendudukan [Zionis Israel], termasuk Nahariyya, Bet Shemesh, Tel Aviv, Yerusalem Barat, serta terhadap pangkalan militer AS,” demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagaimana dikutip media penyiaran Iran seperti dilansir Antara, Selasa (17/3/2026).
IRGC menyatakan telah menyerang pangkalan AS Victoria di Irak, pangkalan udara Ali al-Salem di Kuwait, pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi, serta target milik Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Iran menembakkan rudal super berat Khorramshahr dengan hulu ledak seberat dua ton, rudal Ghadir dengan beberapa hulu ledak, serta rudal Fattah, Kheibar Shekan, dan sejumlah rudal lainnya.
Iran melakukan serangan ke wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah sebagai respons atas operasi militer bersama yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari.
AS Tak Siap Hadapi Drone Iran
Di sisi lain, Amerika Serikat tidak siap menghadapi skala ancaman drone Iran di kawasan Timur Tengah setelah, bersama Israel, menyerang Republik Islam tersebut, ungkap CNN, Selasa, mengutip sejumlah sumber.
Seorang pejabat AS menyebut hambatan utama berasal dari Kongres, yang tidak mendukung percepatan pembelian sistem penangkal pesawat nirawak dan inovasi terkait secara cukup cepat.
“Iran dan negara lain akan mencermati apa yang terjadi dan akan mengembangkan taktik baru serta adaptasi baru dari drone … dinamika langkah, langkah balasan, dan balasan terhadap balasan ini akan terlihat pada penggunaan drone, seperti yang pernah kita lihat pada perangkat peledak improvisasi,” sebut laporan CNN mengutip penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, Mark Cancian, seperti dikutip dari Antara.
Namun, menurut laporan itu, sejumlah sumber lain menyebut AS sebenarnya cukup siap dalam menghadapi drone, dengan merujuk pada kerja sama yang telah berlangsung dengan mitra di Ukraina dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, AS juga terus memantau konflik di Ukraina.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran. Agresi militer itu menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “pendahuluan” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran, namun keinginan itu berubah. AS ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serbuan bersama AS-Israel itu. Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei itu sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam operasi AS-Israel dan menyerukan deeskalasi segera serta penghentian permusuhan.

Leave a Reply