Medianusantara.site, JAKARTA – Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali untuk pelayaran jika pendapatan transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang.
“Selat Hormuz akan dibuka kembali jika sebagian pendpaatan transit digunakan untuk mengomensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan,” kata Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, dalam pernyataan di platform media sosial X, Minggu (5/4/2026).
Tabatabai juga mengkritik tajam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan mengatakan Trump “melontarkan hinaan dan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah,” serta menuduhnya “memulai perang skala penuh di kawasan dan tetap membanggakannya.”
Selat Hormuz Tak Pernah Kembali Seperti Dulu
Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelumnya, khususnya bagi Amerika Serikat dna Israel, seiring langkah Teheran menerapkan pengaturan keamanan baru di Teluk Persia yang bertujuan mengecualikan pihak-pihak yang dianggap bermusuhan.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” demikian pernyataan IRGC lewat platform media sosial X, Minggu (5/4/2026) seperti dilansir Antara.
Pernyataan itu menambahkan bahwa Angkatan Laut IRGC Iran berada pada tahap akhir persiapan operasional untuk apa yang disebut para pejabat Iran sebagai “tatanan baru untuk Teluk Persia.”
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa hari setelah parlemen Iran menyetujui di tingkat komite rancangan undang-undang yang akan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Media Iran melaporkan bahwa usulan tersebut mencakup kewajiban pembayaran biaya lintasan dalam mata uang nasional Iran, rial, larangan transit bagi AS dan Israel, serta pembatasan terhadap negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Rancangan tersebut juga memuat ketentuan terkait kedaulatan Iran atas selat, kewenangan angkatan bersenjata, keamanan maritim, isu lingkungan, serta kerja sama hukum dengan Oman.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri, yang menyebabkan korban dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Leave a Reply