Iran Beri Sinyal Positif, 2 Kapal Tanker Pertamina Siap Keluar Hormuz

Iran Beri Sinyal Positif, 2 Kapal Tanker Pertamina Siap Keluar Hormuz
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl A. Mulachela berbicara dalam media gathering di Jakarta, Selasa (10/2/2026). ANTARA/Cindy Frishanti

Medianusantara.site, JAKARTA — Kabar baik datang bagi Indonesia terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz. Pemerintah Iran disebut telah memberikan respons positif atas permintaan Indonesia agar kapal-kapal tersebut dapat melintas dengan aman.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengatakan sejak awal pemerintah Indonesia melalui Kemlu dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak di Iran.

“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl dikutip dari Antara, Jumat (27/3/2026).

Respons tersebut membuka jalan bagi langkah lanjutan di tingkat teknis dan operasional. Meski demikian, belum ada kepastian waktu kapan kedua kapal tanker tersebut akan benar-benar keluar dari Selat Hormuz.

Negosiasi Intensif dan Jaminan Energi Aman

Sebelumnya, pada 4 Maret, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pemerintah tengah menempuh jalur negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping yang berada di kawasan tersebut.

Meski sempat tertahan, Bahlil memastikan kondisi itu tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Pemerintah, kata dia, segera mencari alternatif pasokan energi dari negara lain untuk menjaga stabilitas.

Upaya diplomasi juga terus diperkuat. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, pada 6 Maret menegaskan bahwa komunikasi dengan pemerintah Iran terus ditingkatkan demi menjamin keselamatan kapal dan awaknya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya memberikan izin bagi kapal dari “negara sahabat” untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan negara yang dianggap agresor tetap tidak diperbolehkan melintas.

Negara-negara yang masuk kategori “sahabat” tersebut antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia.

Situasi di Selat Hormuz sendiri sempat memanas. Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20–22 Maret, sekitar 1.900 kapal dilaporkan tidak dapat bergerak di kawasan tersebut.

Dengan adanya sinyal positif dari Iran, peluang dua kapal tanker Pertamina untuk kembali melanjutkan pelayaran kini semakin terbuka.

Leave a Reply