Medianusantara.site, WASHINGTON — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran diduga menyerang sebuah kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz. Insiden tersebut dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa, namun menyebabkan pusat kendali kapal mengalami kerusakan.
Laporan The Wall Street Journal, Kamis (26/6/2026), menyebut dugaan serangan itu berdasarkan keterangan sejumlah pejabat dan pelaut Amerika Serikat.
Menurut laporan tersebut, Angkatan Laut Iran tidak mengirimkan peringatan melalui radio maupun memerintahkan kapal untuk berbalik arah sebelum melepaskan tembakan.
Meski tidak ada awak kapal yang terluka, pusat kendali kapal dilaporkan mengalami kerusakan akibat insiden tersebut.
Sehari sebelumnya, Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengumumkan dimulainya evakuasi ribuan pelaut dari kapal-kapal yang terdampar di kawasan Teluk Persia akibat terganggunya aktivitas pelayaran.
Namun, Dominguez menyebut kapal yang mengalami kerusakan dalam insiden tersebut tidak termasuk dalam proses evakuasi yang dilakukan IMO.
Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan lebih dari 70 kapal yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Pernyataan itu menunjukkan aktivitas pelayaran di jalur energi paling strategis di dunia tersebut masih terus berlangsung.
Insiden ini terjadi di tengah proses normalisasi hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Pada malam sebelum 18 Juni, kedua negara menandatangani sebuah memorandum yang mengatur penghentian perang yang disebut telah berlangsung sejak 28 Februari.
Dokumen tersebut juga mengatur tahapan pencabutan blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta komitmen Iran untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.
Selain itu, Iran menyatakan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Persoalan program nuklir akan dibahas melalui perundingan terpisah yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu 60 hari. Bagi Teheran, pencabutan sanksi ekonomi tetap menjadi prioritas utama dalam proses negosiasi.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan negara-negara Teluk tidak mendukung penerapan tarif maupun pungutan atas penggunaan Selat Hormuz.
“Tidak ada dukungan sama sekali di antara negara-negara Teluk untuk segala bentuk tarif, biaya, atau apa pun yang mengenakan pungutan atas penggunaan perairan internasional,” kata Rubio saat berada di Bahrain.
Rubio mengatakan pertemuannya dengan para pemimpin negara Teluk berlangsung positif. Menurutnya, mereka menyampaikan berbagai masukan dan kekhawatiran yang akan menjadi bahan dalam perundingan lanjutan dengan Iran.
Ia menegaskan Amerika Serikat tidak akan mengambil keputusan yang berpotensi merugikan stabilitas, keamanan, maupun kemakmuran negara-negara mitranya di kawasan Teluk.
Rubio juga menyebut rencana dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS untuk Iran belum menjadi topik pembahasan bersama negara-negara Teluk. Menurutnya, isu tersebut masih terlalu dini untuk dibahas dan akan dipertimbangkan pada tahap berikutnya dalam proses negosiasi.
Dalam kesempatan yang sama, Rubio juga menyinggung perkembangan dialog antara Israel dan Lebanon. Ia menyebut untuk pertama kalinya dalam tiga dekade pemerintah Lebanon melakukan pembicaraan langsung dengan pemerintah Israel.
“Ini akan menjadi sebuah proses yang membutuhkan waktu dan kerja keras. Namun, untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, pemerintah berdaulat Lebanon berbicara langsung dengan pemerintah Israel,” ujarnya.

Leave a Reply