Medianusantara.site, SUKOHARJO – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai menekan dunia usaha di Kabupaten Sukoharjo. Kondisi tersebut dinilai memperbesar biaya produksi, melemahkan daya beli masyarakat, hingga memunculkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Nilai tukar rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,51 persen menjadi Rp17.503 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.47 WIB. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan ini juga menjadi salah satu yang terdalam sepanjang sejarah setelah rupiah sempat menyentuh level Rp17.425 per dolar AS pada 5 Mei 2026.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sukoharjo, M. Yunus Arianto, mengatakan kondisi tersebut menimbulkan efek domino terhadap sektor industri, terutama perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti plastik, makanan-minuman, hingga manufaktur.
“Yang pasti biaya operasional produksi meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Sehingga, arus kas atau cash flow perusahaan bakal terganggu,” kata Arianto, Rabu (13/5/2026).
Pria yang akrab disapa Ari itu menilai tekanan kurs juga akan berdampak pada daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok dan energi yang semakin mahal dinilai membuat kemampuan belanja masyarakat menurun.
Selain itu, ia menyebut ancaman terbesar dari pelemahan rupiah adalah potensi PHK di sektor industri apabila kondisi berlangsung dalam jangka panjang.
“Opsi PHK bakal diambil jika beban operasional dan kondisi finansial perusahaan benar-benar tertekan. Ini kemungkinan bisa terjadi jika kondisi seperti ini berlangsung cukup lama,” ujarnya.
Menurut Ari, kebijakan PHK otomatis akan menambah angka pengangguran terbuka di Sukoharjo. Padahal, kondisi ketenagakerjaan di daerah tersebut saat ini sudah mengalami tekanan akibat melemahnya industri tekstil dan produk tekstil sebagai sektor padat karya utama.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sukoharjo, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tercatat sebesar 3,65 persen pada 2024. Setahun kemudian, angka itu meningkat menjadi 4,32 persen.
Ari berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat daya tahan industri nasional.
“Kami menyarankan agar pemerintah fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengurangi ketergantungan barang impor, serta memberikan insentif kepada sektor industri untuk menjaga kelangsungan usaha,” paparnya.

Leave a Reply