Asal Usul Monumen Apem Sewu, Jadi Ruang Publik Baru di Solo

Asal Usul Monumen Apem Sewu, Jadi Ruang Publik Baru di Solo
Suasana di Monumen Apem Sewu, Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Solo, Sabtu (11/4/2026) siang. Monumen Apem Sewu menjadi ruang publik baru yang menarik wisatawan luar kota. (Daerah/Wahyu Prakoso)

Medianusantara.site, SOLO – Di bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Solo, terdapat ruang publik baru yang menjadi ikon bagi warga setempat. Ikon itu merupakan Monumen Apem Sewu.

Monumen Apem Sewu menjadi tujuan wisata bagi masyarakat khususnya bagi wisatawan untuk menikmati sore hari hingga para pemancing. Monumen Apem Sewu semakin dikenal luas oleh masyarakat, bahkan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjalankan hobi melukisnya di bantaran Bengawan Solo ruas Sewu, Kamis (9/4/2026).

Selain itu, Monumen Apem Sewu menjadi peringatan satu tahun pemerintahan Wali Kota Solo Respati Ardi dan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani Maret 2026 lalu. Warga setempat juga menggunakan Monumen Apem Sewu untuk menjalani tradisi tahunan berupa Apem Sewu.

Apem Sewu merupakan tradisi yang dikemas melalui kirab gunungan ribuan kue apem yang dihias dan diarak keliling Kampung Sewu oleh warga yang mengenakan pakaian adat Jawa. Setelah itu, ada doa lalu apem dibagikan kepada warga.

Ketua Kelompok Peduli Sungai (KPS) Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI Sewu, SM Budi Utomo, 50, menjelaskan Monumen Apem Sewu dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sejak Oktober 2020. Monumen Apem Sewu dibangun satu paket bersama revitalisasi Pintu Air Demangan lama yang telah beroperasi sejak 1918.

“Pintu Air Demangan merupakan restricted public area. Bagian timurnya, Monumen Apem Sewu untuk ruang publik. Dari BBWS membangun itu sejak awal,” kata dia kepada Espos, Sabtu (11/4/2026) siang. 

Dia mengatakan Tradisi Apem Sewu semula merupakan event tingkat kampung yang dijalankan oleh warga yang tinggal di tepi Bengawan Solo. Kemudian Apem Sewu diangkat menjadi event tingkat kota pada masa Sewu dipimpin Lurah Sewu, S Budi Hartono.

“Sekarang menjadi kepariwisataan. Sejarahnya dulu ada pagebluk di Kampung Sewu dan banjir. Lalu seorang ulama Ki Ageng Gribig menyarankan membuat 1.000 kue apem untuk dibagikan kepada warga agar pagebluknya hilang,” kata dia.

Dia mengatakan Ki Ageng Gribig merupakan tokoh yang sama dengan berkaitan dengan tradisi Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten. Ritual ini memperingati kedermawanan Ki Ageng Gribig yang membagikan kue apem sepulang dari ibadah haji.

Dia mengatakan Ki Ageng Gribig pernah singgah di Kampung Sewu. Setelah warga Sewu membagikan apem, tidak ada korban jiwa atau luka ketika kampung Sewu dilanda bencana banjir.

Leave a Reply