Asale Bungkus Sragen: Kisah Jaka Lelana hingga Mitos Sendang Putri

Asale Bungkus Sragen: Kisah Jaka Lelana hingga Mitos Sendang Putri
Lokasi Sendang Putri yang menjadi punden bagi warga di Dukuh Bungkus, Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Sragen. Foto diambil belum lama ini.

Medianusantara.site, SRAGEN — Nama Bungkus mungkin terdengar unik bagi sebagian orang. Namun, di balik nama sebuah dukuh di Desa Banyurip, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, tersimpan kisah turun-temurun yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat.

Dukuh Bungkus berada di ujung barat laut Desa Banyurip, tepat di kawasan Pegunungan Kendeng yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan. Wilayah ini terdiri atas dua rukun tetangga (RT), yakni RT 017 dan RT 018, dengan sekitar 130 kepala keluarga (KK). Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani tebu.

Saat ini, akses menuju Dukuh Bungkus relatif mudah karena jalan telah dicor. Padahal, beberapa tahun silam jalur menuju wilayah tersebut masih berupa jalan yang licin dan sulit dilalui ketika musim hujan.

Asal-usul nama Bungkus dikisahkan oleh sesepuh Dukuh Bungkus, Suraji, 68. Menurut cerita yang diwariskan secara lisan, nama Bungkus berawal dari perjalanan seorang pengembara bernama Jaka Lelana.

Suraji menuturkan Jaka Lelana berjalan dari arah barat ke timur. Perjalanan itu dimulai dari sebuah tempat bernama Sempu. Nama Sempu berasal dari istilah sak empu yang menggambarkan wilayah tersebut sangat kecil.

Dari Sempu, Jaka Lelana melanjutkan perjalanan ke arah timur. Saat melintasi suatu wilayah, ia tiba-tiba “terbungkus”. Peristiwa itulah yang kemudian diyakini menjadi asal mula nama Bungkus.

Meski demikian, Suraji mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang dimaksud dengan “terbungkus” maupun apa yang sebenarnya membungkus sang pengembara.

Sendang Putri dan Mitos yang Masih Dipercaya

Selain cerita asal-usul nama, Dukuh Bungkus juga dikenal memiliki sejumlah pantangan dan mitos yang masih hidup di tengah masyarakat.

Di wilayah ini terdapat sebuah mata air yang dikenal sebagai Sendang Bungkus atau lebih akrab disebut Sendang Putri. Dahulu sendang tersebut memiliki sumber air yang melimpah. Kini sumber airnya telah mengering dan hanya menyisakan pepohonan tua di sekitarnya.

Meski demikian, Sendang Putri masih dianggap memiliki nilai sakral oleh sebagian warga.

“Warga di Bungkus kalau hendak menggelar hajatan penikahan atau hajatan penting lainnya maka wajib menggunakan air dari sekitar Sendang Putri. Kalau tidak menggunakan air dari sekitar Sendang Putri maka air yang digunakan akan terus berbusa. Perempuan yang sedang menstruasi dilarang mengambil air di sekitar Sendang Putri,” jelas Suraji saat berbincang dengan Espos, belum lama ini.

Suraji juga menuturkan Dukuh Bungkus sejak dahulu dikenal sebagai tempat persembunyian. Menurut cerita yang berkembang, seseorang yang melarikan diri ke Bungkus tidak akan mudah ditemukan, kecuali saat terjadi gerhana bulan.

Selain itu, masyarakat setempat meyakini Sendang Putri dihuni sosok yang dikenal sebagai Mbah Sambyah.

Menurut Suraji, ketika terjadi pergolakan di daerah maupun tingkat nasional, sosok gaib tersebut dipercaya kerap memberikan pertanda mengenai peristiwa yang akan terjadi.

Di kawasan sendang juga tumbuh sejumlah pohon yang kini mulai jarang dijumpai, seperti pancal kidang, laban, dan sepreh. Di lokasi tersebut juga terdapat jejak yang dipercaya sebagai tapak kuda Sembrani.

Hingga kini, Sendang Putri masih menjadi lokasi pelaksanaan tradisi sedekah bumi yang digelar warga setiap Jumat Pahing.

Suraji juga mengenang pernah melihat pohon kelapa yang buahnya hanya terisi separuh, tetapi tetap mengandung air kelapa. Ia juga mengaku dahan pohon kelapa yang mengering sering kali jatuh tanpa diketahui arahnya.

Di balik cerita-cerita yang berkembang, Dukuh Bungkus juga mengalami perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Suraji menjelaskan, sebelum 2022 air tanah di Bungkus terasa asin saat musim kemarau panjang.

Namun, sejak dibangun penampungan air hujan yang diresapkan ke dalam tanah, kondisi tersebut berubah. Kini air di wilayah Bungkus dan sekitarnya tidak lagi terasa asin meski kemarau berlangsung cukup lama.

Leave a Reply