Karanganyar Perkuat Mitigasi Longsor dan Gempa Jelang Musim Hujan

Karanganyar Perkuat Mitigasi Longsor dan Gempa Jelang Musim Hujan
Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) Kabupaten Karanganyar 2026 digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jatiyoso, Sabtu (26/9/2026). (Daerah/Indah Septiyaning Wardani)

Medianusantara.site, KARANGANYAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menjelang musim penghujan.

Selain ancaman tanah longsor yang menjadi salah satu risiko utama di wilayah perbukitan, masyarakat juga diminta memahami langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jatiyoso, Karanganyar, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan tersebut digelar untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai karakteristik gempa bumi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar, Sugiharjo, mengatakan Jatiyoso dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut pernah merasakan dampak gempa yang bersumber dari kawasan Pacitan.

“Jatiyoso beberapa kali kena dampak. Makanya kita adakan di situ,” kata Sugiharjo.

Menurut dia, kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas perwakilan instansi pemerintah, kepala desa, relawan SAR, masyarakat, sekolah, hingga unsur kesehatan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai kebencanaan, tetapi juga mengikuti simulasi serta edukasi kesiapsiagaan, termasuk kegiatan yang dikemas dalam bentuk permainan untuk memberikan pemahaman kebencanaan kepada anak-anak.

“Edukasi dan kesiapsiagaan kita apabila terjadi bencana, apa yang kita lakukan, apa yang kita siapkan. Ada simulasi juga berkaitan dengan bencana khususnya gempa bumi,” ujarnya.

Potensi Gempa Bumi, Tanah Longsor dan Angin Puting Beliung

Sugiharjo mengatakan ancaman bencana di Jatiyoso tidak hanya berkaitan dengan gempa bumi. Wilayah tersebut juga memiliki potensi tanah longsor dan angin puting beliung. Banjir juga tetap perlu diantisipasi di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian terutama karena Jatiyoso merupakan kawasan perbukitan dengan sejumlah titik memiliki kemiringan lereng cukup terjal.

Dia menyebut beberapa wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain Wonorejo dan Beruk.

“Sebagian besar Jatiyoso perlu kita antisipasi. Wonorejo, Beruk, itu perlu kita persiapkan sedini mungkin apabila terjadi bencana,” katanya.

BPBD bersama sejumlah perguruan tinggi juga telah memasang sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) di sejumlah lokasi. Pemasangan tersebut dilakukan antara lain untuk memberikan peringatan kepada masyarakat ketika terdapat potensi tanah longsor.

Jatiyoso Rawan Bencana

Sugiharjo menjelaskan kondisi lereng di sejumlah wilayah Jatiyoso cukup curam. Bahkan, kemiringan di beberapa titik mencapai sekitar 70-80 derajat. 

Berdasarkan pengamatan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kondisi tanah di sejumlah kawasan Jatiyoso juga perlu diwaspadai, terutama ketika hujan turun setelah periode kemarau panjang.

“Tanahnya sebenarnya tanah yang mudah longsor, tetapi mungkin pohon-pohon penahan sudah mulai berkurang. Jadi apabila hujan setelah kemarau panjang, harus diantisipasi,” ujarnya.

Kesiapsiagaan tersebut semakin penting karena Karanganyar akan memasuki periode penghujan setelah mengalami kemarau yang cukup panjang. Sugiharjo menyebut berdasarkan informasi BMKG, hujan diperkirakan mulai turun sekitar November, bahkan intensitasnya diperkirakan meningkat pada akhir tahun hingga awal 2027. BPBD pun menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, dengan puncak curah hujan diperkirakan terjadi sekitar Februari 2027.

“Diperkirakan curah hujan itu sama dengan tahun kemarin, tetapi waktunya lebih pendek. Jadi harus kita antisipasi,” kata Sugiharjo.

BPBD Karanganyar juga menyiapkan sejumlah langkah, termasuk peningkatan kesiapsiagaan serta pelatihan bagi relawan menjelang musim penghujan. Melalui Sekolah Lapang Gempabumi, BMKG bersama pemerintah daerah berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi bencana sekaligus tindakan yang harus dilakukan.

Bagi BPBD Karanganyar, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sebelum memasuki periode dengan potensi hujan yang lebih tinggi.

Sugiharjo mengatakan kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan peralatan. Pengetahuan masyarakat, kesiapan relawan, sistem peringatan dini, serta koordinasi antarlembaga juga perlu diperkuat.

“Kita nanti akan meningkatkan kesiapsiagaan dan pelatihan untuk relawan,” katanya.

Dengan kondisi geografis Karanganyar yang memiliki kawasan perbukitan dan lereng, mitigasi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban maupun kerugian ketika bencana terjadi.

Masyarakat pun diharapkan tidak menunggu bencana datang untuk mulai bersiap. Mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar, mengetahui langkah penyelamatan diri, serta memperhatikan informasi resmi dari BMKG dan BPBD menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

Warga Diminta Tak Terpaku Isu Megathrust
Sementara itu, Pengamat Geofisika Stasiun Geofisika Sleman BMKG, Hari Sungkowo, mengingatkan masyarakat agar tidak terpaku pada isu mengenai megathrust. Menurut dia, hal yang jauh lebih penting adalah memahami karakteristik gempa dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika guncangan terjadi.

Hari mengatakan gempa bumi dapat terjadi akibat tumbukan lempeng maupun aktivitas sesar aktif. Gempa juga dapat terjadi kembali karena adanya akumulasi energi di dalam bumi. Namun, waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara pasti.

“Potensi berulangnya itu ada, tetapi memang tidak bisa diprediksi kejadiannya. Lokasinya bisa diketahui, tetapi waktunya kita belum tahu sampai saat ini,” jelasnya.

Karena gempa berlangsung dalam waktu singkat, masyarakat perlu memiliki pengetahuan mengenai perlindungan diri sebelum bencana terjadi.

Hari meminta warga mengenali lingkungan tempat mereka beraktivitas, baik di rumah, kantor, pabrik, sekolah maupun tempat lainnya. “Kita harus tahu posisi kita di mana. Harus tahu zona-zona aman dari gempa itu di mana saja,” katanya.

Menurut dia, kesiapsiagaan sederhana seperti mengetahui tempat berlindung yang aman dapat menentukan keselamatan ketika gempa terjadi.

Selain gempa, Hari mengingatkan masyarakat yang tinggal di kawasan lereng untuk meningkatkan kewaspadaan saat musim hujan. Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor di kawasan perbukitan.

Air hujan yang masuk ke pori-pori tanah dapat membuat massa tanah bertambah berat. Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko apabila lereng memiliki kemiringan tinggi dan minim vegetasi sebagai pengikat tanah. “Kalau di lereng, apalagi tidak ada vegetasi yang mengikat, lebih waspada kalau musim hujan,” ujarnya.

Hari menambahkan kondisi tanah di kawasan lereng juga perlu dipetakan. Karakteristik tanah, ketebalan sedimentasi, hingga kondisi pori-pori tanah menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam mitigasi longsor. Risiko juga dapat meningkat apabila hujan terjadi bersamaan dengan guncangan gempa.

“Apalagi kalau hujan kombinasi dengan guncangan atau gempa,” katanya.

Leave a Reply