Medianusantara.site, KARANGANYAR — Kenaikan harga bahan baku tepung terigu dan tepung kanji mulai membebani pedagang makanan di Karanganyar.
Lonjakan harga yang terjadi sejak awal bulan lalu membuat pedagang harus memutar otak untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkecil ukuran produk tanpa mengubah cita rasa.
Pedagang Cilok Jadul Beji, Karanganyar, Didi, mengatakan kenaikan harga bahan baku terjadi hampir bersamaan. Namun, kenaikan harga tepung kanji dinilai lebih signifikan dibandingkan tepung terigu. Kondisi tersebut berdampak terhadap biaya produksi yang harus dikeluarkan setiap hari.
“Naik semua. Ini ukurannya agak diperkecil, tapi rasanya tetap sama,” ujar Didi saat ditemui Espos, Rabu (4/11/2026).
Menurut Didi, kenaikan harga tepung kanji cukup terasa. Harga tepung kanji dalam satu sak berisi 25 kilogram yang sebelumnya berkisar Rp320.000 kini naik menjadi sekitar Rp380.000.
Bahkan, harga terbaru hampir menyentuh Rp400.000 per sak. Kenaikan tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan penggunaan bahan baku agar usaha tetap berjalan. Sebab, tepung merupakan salah satu komponen utama dalam proses produksi makanan yang dijualnya.
Kenaikan Bahan Baku Pengaruhi Modal Usaha
Didi mengaku kebutuhan tepung terigu untuk produksi sehari-hari mencapai sekitar 10 kilogram. Dengan kebutuhan bahan baku yang cukup besar, kenaikan harga tepung tentu berpengaruh terhadap pengeluaran usaha.
Meski demikian, Didi belum berani mengambil langkah menaikkan harga jual produknya. Dia khawatir kenaikan harga justru berdampak terhadap jumlah pelanggan. Terlebih, persaingan usaha makanan membuat pedagang harus menjaga harga agar tetap terjangkau.
“Tidak berani menaikkan harga. Nanti pelanggannya lari,” katanya.
Didi memilih memperkecil ukuran produk sebagai salah satu cara menyiasati kenaikan harga bahan baku. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga harga jual tetap stabil sehingga pelanggan tidak merasa terbebani.
Menurutnya, mempertahankan pelanggan menjadi hal penting di tengah kenaikan biaya produksi. Pedagang harus mencari keseimbangan antara pengeluaran untuk membeli bahan baku dan pendapatan dari penjualan.
Di sisi lain, kondisi penjualan hingga saat ini masih relatif stabil. Meski tidak seramai saat permintaan meningkat, usaha yang dijalankan Didi masih mampu memenuhi kebutuhan produksi harian. Dalam sehari, Didi rata-rata memproduksi sekitar 14-15 kilogram adonan. Jumlah tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 20 kilogram ketika kondisi penjualan sedang ramai.
“Sekarang tidak begitu ramai, tetapi stabil. Bisa bikin 14 kilogram sampai 15 kilogram. Kalau ramai sampai 20 kilogram,” ungkapnya.
Stabilnya produksi menjadi salah satu alasan Didi tetap mempertahankan harga jual. Dia berharap kenaikan harga bahan baku tidak berlangsung terus-menerus sehingga pedagang kecil tidak semakin kesulitan dalam menjalankan usaha.
Kenaikan harga tepung kanji yang hampir menyentuh Rp400.000 per sak menjadi tantangan tersendiri bagi pedagang. Jika harga bahan baku kembali naik, pedagang harus kembali melakukan penyesuaian agar usaha tetap bertahan.
Di tengah kondisi tersebut, Didi berharap harga bahan baku dapat kembali stabil. Dengan begitu, pedagang bisa menjalankan usaha secara lebih leluasa tanpa harus terus mencari strategi untuk menekan biaya produksi maupun mengurangi ukuran produk.
Jaga Kualitas Demi Pelanggan
Kendati demikian, untuk saat ini Didi memilih bertahan dengan menjaga kualitas rasa dan mempertahankan pelanggan. Baginya, menjaga kepercayaan pembeli menjadi hal penting agar usaha tetap berjalan meski harga bahan baku mengalami kenaikan.
Salah satu pedagang cakue di Karanganyar, Nurhan Asep, mengatakan kenaikan harga tepung berdampak langsung terhadap modal usaha yang harus dikeluarkan. Harga bahan baku yang sebelumnya masih terjangkau kini mengalami kenaikan sehingga pedagang harus lebih cermat mengatur kebutuhan produksi.
“Sekarang harga tepung naik. Modal yang dikeluarkan juga bertambah, padahal harga jual masih sama,” ujarnya.
Menurutnya, tepung menjadi salah satu bahan baku utama dalam proses pembuatan makanan yang dijualnya. Dengan kenaikan harga tersebut, keuntungan yang diperoleh pedagang berkurang apabila tidak dilakukan penyesuaian.
Meski demikian, dia mengaku belum berencana menaikkan harga produk. Dia memilih mempertahankan harga jual agar pelanggan tetap membeli dagangannya. Sebab, kenaikan harga makanan dikhawatirkan akan membuat penjualannya sepi pembeli.
Pedagang pun mulai mencari cara untuk menekan biaya produksi. Salah satunya dengan mengatur kembali penggunaan bahan baku sesuai kebutuhan. Langkah tersebut dilakukan agar usaha tetap berjalan di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas.
“Kalau harga jual dinaikkan, takutnya pembeli berkurang. Jadi sementara ini masih berusaha menyiasati biaya produksinya,” katanya.

Leave a Reply