Espos.id, SUKOHARJO — Rangkaian Festival Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif Kartasura (FESTRA) 2026 resmi dibuka di Panggung Utama Pagelaran Budaya Ambalwarsa, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (1/10/2026) malam. Acara pembukaan tersebut merupakan bagian dari peringatan Ambal Warsa Kartasura ke-346 yang dihadiri ratusan warga serta jajaran tokoh masyarakat setempat.
Prosesi diawali dengan kirab budaya yang mengiringi para tokoh lintas agama dari titik awal menuju area panggung utama pagelaran. Rombongan pemuka agama disambut dengan pertunjukan musik angklung yang dimainkan oleh kelompok ibu-ibu PKK setempat. Setelah tiba di panggung, seluruh tamu undangan dan warga yang hadir serentak berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Camat Kartasura, Ikhwan Sapto Darmono, hadir mewakili pemerintah daerah untuk membuka secara resmi rangkaian festival yang berlangsung pada 1–11 Oktober 2026 tersebut.
Ambawal Warsa Kartasura ke-346 mengambil tema “Nyawiji ing Rasa, Guyub ing Karsa, Kuncara ing Nuswantara”, di awali dengan agenda utama Doa Lintas Agama dan Gelar Seni Religi. Sebanyak enam tokoh agama memimpin doa bersama bertema “Kartasura untuk Indonesia Damai”, disusul pemotongan tumpeng tasyakuran oleh Camat Kartasura yang diserahkan langsung kepada para pemuka agama.
Dorong Sektor Ekonomi Kreatif
Ketua Pelaksana Ambal Warsa Kartasura ke-346, Prof. Dr. M. Rahmawan Arifin, SE, M.Si., menyatakan FESTRA dirancang sebagai integrasi antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Kegiatan malam ini membuktikan bahwa persatuan lintas iman mampu menjadi penggerak kesejahteraan ekonomi masyarakat,” ujar Ivan saat memberikan keterangan di lokasi acara. Ia mengajak masyarakat luas untuk meramaikan festival sekaligus berbelanja di stan-stan pelaku UMKM, perajin lokal, dan pedagang kuliner yang berpartisipasi selama 11 hari pelaksanaan.
Oleh karena itu, kunjungan masyarakat diharapkan terus mengalir guna mendukung para perajin dan pedagang kuliner. Panitia memastikan seluruh sarana kebersihan dan pos keamanan siaga melayani ribuan pengunjung setiap malam. Rangkaian acara pembukaan FESTRA Kartasura sukses menciptakan ruang perjumpaan budaya yang inklusif, damai, dan produktif.
Seni Religi dan Agenda Lanjutan
Setelah seremoni pembukaan, acara dilanjutkan dengan Gelar Seni Religi. Sejumlah kelompok kesenian menampilkan karya yang membawa pesan keagamaan sekaligus keberagaman kehidupan masyarakat Kartasura. Sanggar Tari Paseban Siwi menampilkan Tari Taktok di hadapan para penonton. Pertunjukan tersebut membawa nuansa religi Islam dan dibawakan oleh para siswi gereja. Sementara itu, Paduan Suara Gereja Kristen Jawa (GKJ) mempersembahkan tembang kenangan dengan iringan instrumen angklung.
Pertunjukan yang hadir secara bergantian tersebut menciptakan suasana teduh di panggung utama. Penonton dari berbagai latar belakang tampak menikmati pertunjukan yang disajikan sepanjang malam. Bagi penyelenggara, keberagaman penampil dalam Gelar Seni Religi menjadi gambaran bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.
Salah seorang pengunjung asal Kartasura, Rahayuningtyas, menilai konsep acara pembukaan berhasil menampilkan wujud kerukunan antarumat beragama melalui sarana kesenian “Menurut saya, pembukaannya menarik karena bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat yang berbeda agama bisa berkumpul dan menikmati acara bersama. Suasananya terasa hangat dan damai,” ujar Tyas.
Rangkaian FESTRA 2026 akan berlanjut pada Jumat (2/10/2026) malam pukul 19.00–22.00 WIB dengan agenda Festival Hadrah se-Kecamatan Kartasura di Pelataran Benteng Kartasura, didukung kesiapan pos pengamanan dan kebersihan dari pihak panitia.

Leave a Reply