Medianusantara.site, SEMARANG — Aktivitas bongkar muat harian masih berjalan normal meski Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang di Kelurahan Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, masih terbakar, pada Jumat (2/10/2026). Titik api dan kepulan asap bahkan masih terlihat membumbung di area TPA tersebut.
Pantauan Espos di lokasi, sejumlah armada truk pengangkut sampah terlihat mengantre untuk masuk ke area TPA Jatibarang. Armada itu mengangkut sampah dari berbagai wilayah di Kota Semarang.
Kepala UPTD TPA Jatibarang, Muhammad Ariawan, mengatakan aktivitas operasional harian memang terganggu akibat kebakaran TPA Jatibarang sejak Rabu (30/9/2026). Namun sampai saat ini tidak ada pembatasan jumlah armada pengangkut sampah yang masuk ke TPA.
“Kalau aktivitas terganggu pasti, cuma tidak ada pembatasan, hanya pengaturan jam. Sehingga operasional tetap maksimal,” ucap Ariawan kepada Espos, Jumat.
Ariawan mengatakan pengaturan jam operasional dilakukan untuk memberi prioritas kepada armada Damkar yang tengah menangani kebakaran. Selama dua hari terakhir, jadwal operasional truk pengangkut sampah tersebut dimundurkan lebih siang.
“Mungkin kita tutupnya lebih lama, karena kita bukanya agak siang. Tergantung kondisi lalu lintas di jam kerja. Kita tetap mengutamakan untuk armada yang pemadaman,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ariawan menyebut jumlah armada pengangkut sampah yang keluar-masuk TPA Jatibarang mencapai sekitar 500 unit. Setiap armada dapat melakukan pengangkutan hingga dua atau tiga kali dalam sehari.
Adapun sampah yang masuk ke TPA Jatibarang rata-rata mencapai 900-950 ton per hari. Di tengah situasi kebakaran, pihak UPTD juga mengarahkan armada untuk membuang sampah ke zona yang dinilai lebih aman.
“Kalau dibatasi nanti timbulan sampah di warga meledak. Untuk tonase sehari itu sekitar 900-950 ton, kita juga mengarahkan truk untuk membuang sampahnya ke zona yang aman,” paparnya.
Sementara itu, Camat Mijen, Suhartini, mengatakan asap kebakaran TPA Jatibarang mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah. Namun, dampak di wilayah Kecamatan Mijen dinilai tidak terlalu besar dibandingkan kawasan yang berada di arah pergerakan angin.
“Tadi pagi saya ketemu dengan orang Ngaliyan. Asapnya terdampak sampai rumahnya. Dia juga punya anak kecil dan bilang ‘Bu, asapnya sampai ke rumah kita’. Saya jawab sudah dalam penanganan,” ungkap Suhartini.
Asap kebakaran TPA Jatibarang disebut lebih banyak berdampak ke pemukiman di Kelurahan Kedungpane dan Bambankerep karena arah angin membawa asap ke kawasan tersebut.
Di sisi lain, Lurah Mijen, Ananta Budhi Baktiar, mengaku pihaknya belum menerima laporan warga Mijen yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap kebakaran. Pihaknya juga telah meminta RT dan RW segera melapor jika terdapat warga yang terdampak agar dapat ditindaklanjuti ke puskesmas terdekat.
“Belum ada RT RW yang melaporkan. Kami sudah share, kalau ada warga yang terganggu kesehatan akibat asap TPA Jatibarang segera laporan karena akan kami tindak lanjuti ke puskesmas terdekat. Sampai saat ini belum ada [laporan] sama sekali,” terangnya.
Meski begitu, dampak asap karena kebakaran TPA Jatibarang aktivitas sekolah terganggu. Ananta mengatakan terdapat tiga sekolah di Mijen yang terpaksa pulang lebih awal jika terdampak asap kebakaran.
“Setiap sekolah yang terdampak dipulangkan lebih awal. Di Kelurahan Kedungpane ada dua SD dan satu SMK,” tukasnya.

Leave a Reply