Medianusantara.site, SOLO — Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo akan memetakan kembali sebaran anak usia sekolah sebagai bahan evaluasi pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Langkah ini dilakukan menyusul masih adanya sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) yang kekurangan pendaftar.
Kepala Disdik Kota Solo, Dwi Ariyatno, mengatakan beberapa SDN tahun ini hanya menerima kurang dari 10 pendaftar. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan antara daya tampung sekolah dengan jumlah calon peserta didik di wilayah sekitarnya.
“Ini jumlah kapasitasnya dengan jumlah siswa pendaftarnya itu masih jauh di bawah harapan,” kata Dwi kepada Espos, Selasa (7/7/2026).
Ia menyebut sekolah yang masih sepi peminat antara lain SDN Tegalayu, SDN Kauman, SDN Kusumodilagan, SDN Munggung, SDN Sawahan, dan SDN Tunggulsari.
Menurut Dwi, kondisi tersebut bukan kali pertama terjadi. Hampir setiap tahun terdapat sejumlah SD negeri yang jumlah pendaftarnya jauh di bawah kuota yang tersedia.
Karena itu, Disdik akan mengevaluasi kondisi demografi di wilayah zonasi sekolah-sekolah tersebut untuk mengetahui apakah rendahnya jumlah pendaftar disebabkan berkurangnya populasi anak usia sekolah.
“Nanti kemungkinan akan kita evaluasi, apakah daya tampung di wilayah itu memang lebih banyak dibandingkan jumlah anaknya,” ujarnya.
Saat ini, Disdik sedang memetakan jumlah anak usia sekolah dasar di setiap kawasan yang menjadi wilayah layanan sekolah-sekolah tersebut.
Pemetaan dilakukan untuk memastikan apakah minimnya pendaftar dipengaruhi penurunan angka kelahiran atau memang jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut terus berkurang.
“Ini lagi tak petani [saya petakan] potensi anak usia sekolah yang ada di wilayah itu, kira-kira ada berapa jumlahnya,” katanya.
Selain di jenjang SD, Disdik juga mencatat masih adanya sisa kuota pada beberapa sekolah menengah pertama negeri (SMPN). Namun, penyebabnya berbeda karena lebih dipengaruhi faktor lokasi dan akses menuju sekolah.
Dwi menyebut SMPN 20 dan SMPN 21 Solo menjadi dua sekolah yang masih memiliki sisa kuota cukup banyak pada SPMB tahun ini.
Menurutnya, kedua sekolah tersebut berada di kawasan yang akses jalannya kurang strategis sehingga kalah bersaing dengan sekolah lain di sekitarnya.
“Karena memang area itu kan area buntu. Maksudnya akses jalurnya itu kan di pinggir kali [sungai]. Terus, kanan dan kirinya itu sudah ada sekolah-sekolahan lain yang lebih dulu jadi pilihan [masyarakat],” jelasnya.
Ia menilai keberadaan sekolah-sekolah lain dengan akses yang lebih mudah membuat SMPN 20 dan SMPN 21 kesulitan menarik calon peserta didik.
“Itu yang kuotanya masih sisa lumayan tinggi di SMP 21 sama 20. Kalau yang lainnya ada sisa kuota juga, tapi kecil, di bawah 10 kursi,” pungkasnya.

Leave a Reply