560 Hektare Hutan & Lahan di Sukoharjo Hangus Terbakar Selama Mei-September 2026

560 Hektare Hutan & Lahan di Sukoharjo Hangus Terbakar Selama Mei-September 2026
Sejumlah relawan berupaya memadamkan kebakaran hutan di Desa Sanggang, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, Sabtu (8/8/2026). (Istimewa)

Medianusantara.site, SUKOHARJO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat kasus kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sukoharjo selama empat bulan mulai periode Mei-September 2026 sebanyak 114 kasus. Dalam periode itu, total luasan hutan dan lahan yang terbakar sekitar 560,42 hektare.

Kawasan hutan dan lahan rentan terbakar saat musim kemarau akibat cuaca panas dan kekeringan ekstrem. Kondisi ini ditambah tiupan angin kencang saat musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh aktivitas manusia mulai dari membakar sampah kering hingga membuang puntung rokok sembarangan.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, mengatakan kebakaran hutan dan lahan selama empat bulan periode 28 Mei-28 September 2026 sebanyak 114 kasus. Kebakaran hutan dan lahan didominasi hutan rakyat yang tersebar di wilayah Bulu, Tawangsari, dan Weru.

“Kebakaran hutan dan lahan kali terakhir terjadi pada 28 September di wilayah Desa Gentan, Kecamatan Bulu. Luasan lahan yang terbakar kurang lebih 20 hektare,” kata dia, Jumat (2/10/2026).

Ari, sapaan akrabnya, mengatakan total luasan hutan dan rakyat yang terbakar sekitar 560,42 hektare. Kebakaran hutan dan lahan terparah terjadi di hutan rakyat di wilayah Desa Karangasem, Kecamatan Bulu pada 3 September. Kala itu, kobaran api melalap hutan rakyat seluas 35 hektare.

Ari memperkirakan kasus kebakaran hutan dan lahan kemungkinan bertambah seiring perkiraan musim kemarau yang lebih panjang pada tahun ini. Tingginya suhu panas di tambah tiupan angin yang kencang menjadi faktor pemicu menjalarnya kobaran api yang membakar hutan dan lahan.

“Selama ini, penanganan pemadaman kebakaran hutan dan lahan melibatkan relawan di masing-masin kecamatan. Mereka bergerak ketika muncul titik api di kawasan hutan rakyat atau lahan,” papar dia.

Tingginya kasus kebakaran hutan dan lahan mendapat atensi khusus dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat menghadiri panen raya jagung di Desa Karanganyar, Kecamatan Weru pada Kamis (1/10/2026). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah selalu berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Luthfi menekankan pentingnya mengedukasi masyarakat yang tinggal berdekatan dengan kawasan hutan dan lahan. “Justru, yang paling penting adalah mendidik dan mengedukasi masyarakat. Imbauan-imbauan selalu disampaikan seperti dilarang membuang puntung rokok sembarang. Kemudian, kalau membuka lahan dengan cara dibakar ya harus ditungguin, jangan ditinggal,” kata dia.

Leave a Reply